Baldwings's Blog
Just another WordPress.com weblog

Mbah Maridjan

Nama dan sosok Mbah Maridjan sudah sedemikian dikenal publik Indonesia sebagai seorang kakek yang bersahaja, bertanggungjawab terhadap amanah yang diembannya dan setia memenuhi janjinya sampai akhir.

Mbah Maridjan yang sering mengenakan baju batik dan sarung ini walau terkenal sebagai bintang di iklan Sido Muncul, sisi kehidupannya sebagai juru kunci Gunung Merapi tetap melekat padanya.

Pria kelahiran Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman tahun 1927 walau sudah berusia 83 tahun tapi tampak kuat dan tegar. Kesetiaannya kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memberi amanah untuk menjadi juru kunci Gunung Merapi ditunaikan dengan baik, bahkan tak tergoda dan tidak silau dengan kemewahan dunia.

Mbah Maridjan yang bergelar Mas Penewu Suraksohargo (Sang Penjaga atau Juru Kunci Gunung Merapi) tetap teguh mendiami tanah kelahirannya yang jauh dari hiruk pikuk kemewahan. Bahkan dana yang diperoleh dari iklan juga dipakai untuk membangun Kinahreja termasuk rumah dan mesjid di dusunnya itu.

Gaya bicaranya yang lugu dan lucu sering tampak seperti banyolan tapi penuh makna. Dia sering melontarkan kalimat kalimat dalam bahasa Jawa yang sarat makna. “Aja kesusu golek jenang yen durung nduwe jeneng” Jangan buru buru cari harta kalau memang belum punya nama atau karya perjuangan untuk masyarakat.

Ketaatan atas perintah Kanjung Sultan HB IX ditunjukkan tahun 2006 saat Gunung Merapi meluluhlantakkan wilayah sekitar letusan Merapi kala itu. Mbah Maridjan bersikeras  tidak mau meninggalkan Merapi walau gunung paling aktif di dunia itu “batuk-batuk” dan menyemburkan awan panas berbahaya. Saat itu Mbah Maridjan selamat.

Berbeda dengan letusan gunung Merapi 26 Oktober 2010 yang disusul dengan semburan awan panas menyapu dukuh Kinahrejo tempat beliau berdiam. Walau tim relawan dan SAR sudah merayu mengajak Mbah Maridjan untuk mengungsi tapi dia belum bersedia meninggalkan tempatnya bertugas.

Dia bersedia mengungsi meninggalkan kediamannya apabila sudah menunaikan Shalat Maghrib di masjid yang berjarak 100 meter dari rumahnya. Ternyata Allah memanggil Mbah Maridjan pada saat juru kunci itu sedang menunaikan shalat.

Keteguhannya untuk mendahulukan ketaatan kepada Tuhan mengalahkan segala-galanya, walau bahaya sudah mengancam. Mbah Maridjan berusaha memberikan pengabdian terbaik melalui shalat Maghrib yang terakhir kali. Dan saat dia dalam posisi sujud itulah, Allah memanggilnya hingga tampak jenazahnya persis saat melaksanakan shalat,  suatu puncak ketundukan hamba kepada Sang Khalik yaitu sujud meninggikan namaNya.

Mbah Maridjan memang tampak sering mengadakan tumpengan di dukuhnya untuk mengumpulkan warga membaca doa dan mengirim doa untuk arwah leluhur. Tradisi ini umum dilakukan oleh umat Islam khususnya warga Nahdliyin yang rajin mengirim doa untuk para pendahulunya.

Pernah paranormal Ki Joko Bodo berkunjung ke kediaman Mbah Maridjan yang kemudian juga turut serta mengirim doa dilengkapi dengan nasi tumpeng sebagai simbul untuk menggalang persatuan warga agar memuji Sang Khalik yang Maha Tinggi. Mbah Maridjan pun tak ambil pusing apa kata orang terkait hal itu yang dibilang suka melakukan sesaji, tapi dia tetap santun dengan menjaga budaya Jawa beriringan dalam pengabdian kepada Nya.

Mbah Maridjan sosok yang sederhana, taat beragama, jujur, polos, lucu, teguh pendirian dan suka membantu sesama. Penilaian itu tak berlebihan karena Mbah Maridjan juga pernah menyempatkan diri mengunjungi korban banjir di Jakarta tahun 2007 dan di lain waktu.

Walau dia terkenal dengan “roso-roso” (kuat kuat) tapi sebenarnya Mbah Maridjan tidak ingin dirinya terkenal karena takut sombong. Jangan mengabadikan fotonya untuk hal hal yang tidak berguna. Jangan ambil foto saya. Itu artinya dia tidak mau sombong atau terkenal melebih kapasitas dan karyanya. Sosok yang rendah diri dan bersahaja.

Kini publik Indonesia telah kehilangan sosok mulia itu setelah tim medis memastikan bahwa jenazah yang ditemukan dalam posisi bersujud adalah Mbah Maridjan si juru kunci Merapi. Keluarganya selamat karena sudah bersedia mengungsi saat saat terakhir sebelum awan panas menyapu Kinahrejo.

Kamis (28/10/2010) sebelum Zuhur, jenazahnya akan dimakamkan di kawasan Srunen, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jogjakarta. Kematiannya meninggalkan banyak pesan dan nasihat bagi manusia yang mengetahuinya. Kepergiannya penuh hikmah, husnul khatimah, suatu harapan yang banyak diidam-idamkan oleh manusia dalam doa dan ikhtiarnya. Selamat jalan Mbah Maridjan semoga karya dan kiprahmu dicatat sebagai amal ibadah di sisiNYa.

Iklan

Belum Ada Tanggapan to “Mbah Maridjan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: